“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Kalimat itu ditulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya—bukan sebagai gaya-gayaan pesimis, tetapi sebagai refleksi atas dunia yang ia anggap penuh kepalsuan. Di Jakarta pertengahan 1960-an, ketika mahasiswa turun ke jalan dan sejarah sedang ditulis ulang, Gie memilih satu hal yang jarang: tetap gelisah.
Lahir pada 17 Desember 1942 di Jakarta, Gie tumbuh dalam lingkungan intelektual. Ayahnya seorang penulis, kakaknya—Arief Budiman—kelak dikenal sebagai akademisi kritis. Sejak remaja di Kolese Kanisius, Gie sudah terbiasa membaca dan menulis. Ia tidak sekadar belajar, tetapi mempertanyakan. Buku hariannya, yang kemudian dikenal sebagai Catatan Seorang Demonstran, menjadi saksi bagaimana seorang anak muda melihat dunia tanpa ilusi.
Saat masuk Universitas Indonesia pada 1962, Gie memilih jurusan sejarah. Pilihan yang tampak sederhana, tetapi justru membentuk cara pandangnya: bahwa kekuasaan selalu bisa diuji, dan kebenaran tidak selalu berdiri di pihak pemenang.
Pertengahan 1960-an adalah masa ketika Indonesia berada di titik genting, terutama pasca-Gerakan 30 September 1965. Bersama mahasiswa lain, Gie turun ke jalan dalam gelombang aksi Tritura yang menuntut perubahan. Ia ikut dalam arus yang pada akhirnya menggoyahkan kekuasaan Sukarno.
Namun di sinilah Gie berbeda. Ketika banyak aktivis larut dalam euforia kemenangan, ia justru menjaga jarak. Ia menolak masuk ke lingkar kekuasaan baru di bawah Suharto. Baginya, mahasiswa bukan alat politik, melainkan kekuatan moral. Sikap ini membuatnya tetap kritis, bahkan ketika rezim telah berganti.
Di luar jalanan dan ruang kelas, Gie menemukan tempat lain untuk berpikir: alam. Pada 1965, ia turut mendirikan Mapala UI, menjadikannya salah satu pelopor gerakan pecinta alam di Indonesia. Gunung bagi Gie bukan sekadar destinasi, melainkan ruang kejujuran—tempat ia bisa lepas dari hiruk-pikuk politik yang penuh kepentingan.
Desember 1969, Gie kembali ke gunung yang ia cintai: Gunung Semeru. Bersama beberapa rekannya, ia melakukan pendakian yang tampak biasa. Namun pada 16 Desember, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, Gie meninggal dunia akibat menghirup gas beracun di puncak. Ia wafat bersama rekannya, Idhan Lubis.
Hidupnya singkat—hanya 26 tahun. Tapi justru dalam kesingkatan itu, Gie meninggalkan sesuatu yang panjang: keberanian untuk tidak ikut arus.
Hari ini, kita hidup di zaman yang berbeda. Tidak ada tekanan politik seperti dulu. Tidak ada larangan bersuara yang nyata. Tapi justru di situlah masalahnya.
Kita bebas, tapi memilih diam.
Kita tahu, tapi tidak peduli.
Banyak anak muda hari ini cerdas, ambisius, dan sibuk membangun diri. Namun sedikit yang benar-benar gelisah terhadap keadaan sosial di sekitarnya. Gie mungkin tidak akan menyalahkan. Tapi ia pasti akan bertanya: apakah kita benar-benar hidup, atau hanya sibuk bertahan?
Pada akhirnya, Gie tidak penting untuk ditiru. Tapi kegelisahannya penting untuk dihidupkan kembali. Karena bisa jadi, masalah terbesar generasi hari ini bukan kurangnya kesempatan melainkan hilangnya kepedulian.






