Infoseputarsumsel.com – Di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas, Amerika Serikat baru-baru ini menjadi tuan rumah pertemuan menteri-menteri dari puluhan negara untuk membahas mineral krusial di Washington, D.C., sebuah langkah yang secara luas diinterpretasikan sebagai upaya strategis untuk menantang dominasi China dalam rantai pasokan global.
Para pejabat negara peserta berupaya memperkuat dan mendiversifikasi cadangan mineral krusial mereka, yang diketahui sangat penting bagi industri pertahanan dan pengembangan kecerdasan buatan.
Konferensi ini, yang digagas oleh AS, menjadi inisiatif penting pertama dalam membentuk aliansi guna menyeimbangkan kontrol China atas rantai pasokan mineral krusial di seluruh dunia.
Mengapa Mineral Krusial Begitu Penting?
Mineral krusial adalah mineral non-bahan bakar yang digunakan untuk memproduksi berbagai produk teknologi, mulai dari baterai, jam, kabel, perangkat keras militer, hingga semikonduktor.
Amerika Serikat mendeskripsikan mineral ini sebagai “penting bagi keamanan ekonomi atau nasional AS” dan memiliki “rantai pasokan yang rentan terhadap gangguan.” Banyak dari mineral ini, seperti nikel, kobalt, lithium, aluminium, dan seng, merupakan bahan pokok dalam kehidupan modern.
Bahkan, untuk 12 jenis mineral krusial, AS sepenuhnya bergantung pada impor, dan untuk 29 jenis lainnya, setidaknya setengah dari kebutuhannya dipenuhi melalui impor.
Mineral krusial juga mencakup 17 elemen tanah jarang (rare earth elements), termasuk 15 lantanida (elemen metalik) pada tabel periodik, skandium, dan itrium. Elemen tanah jarang memiliki sifat magnetik khusus yang esensial untuk produksi magnet permanen, yang digunakan dalam otomatisasi industri, motor kendaraan listrik, generator energi terbarukan, elektronik, dan banyak perangkat medis.
Dominasi China: Tantangan Global yang Mendesak
Saat ini, China mengendalikan sebagian besar mineral tanah jarang di dunia. Negara ini memiliki 60 persen cadangan mineral ini dan memproses 90 persen dari pasokan global.
Dominasi yang nyaris total ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi negara-negara Barat mengenai akses mereka terhadap mineral vital tersebut. Sebagai contoh, pasokan magnet permanen Eropa hampir seluruhnya berasal dari China.
Kekhawatiran ini semakin diperparah dengan langkah China untuk membatasi ekspor mineral tanah jarang yang dimilikinya. Tahun lalu, China mulai memberlakukan pembatasan, yang pada akhirnya mencakup kelima belas jenis logam tanah jarang.
Meskipun sebuah “gencatan senjata” perdagangan telah dicapai antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping, yang menunda pembatasan untuk lima logam terakhir selama setahun, ketidakpastian pasokan tetap menjadi perhatian utama.
Biaya pemrosesan tanah jarang yang tinggi dan penggunaan bahan kimia berat yang menghasilkan limbah beracun selama penambangan juga menambah kompleksitas masalah ini.
Strategi Amerika Serikat: Dari Project Vault hingga Aliansi Baru
Dalam upaya mengatasi ketergantungan dan memperkuat keamanan pasokannya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan peluncuran cadangan mineral strategis untuk AS yang disebut Project Vault.
Inisiatif ini akan didanai oleh $2 miliar modal swasta bersama dengan pinjaman $10 miliar dari US Export-Import Bank. Proyek ambisius ini diharapkan dapat membangun kemandirian AS dalam menghadapi gejolak pasar global.
Pertemuan para menteri ini, yang merupakan yang pertama dari Critical Minerals Ministerial, dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan berlangsung di gedung Departemen Luar Negeri dekat Gedung Putih.
AS menjadi tuan rumah delegasi dari lebih dari 50 negara, termasuk perwakilan dari negara-negara G7 (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS), serta dari Uni Eropa, Australia, dan Selandia Baru.
Di sela-sela pertemuan, Rubio dilaporkan bertemu dengan Cho Hyun, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, dan Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Luar Negeri India, untuk membahas kerja sama dalam mineral krusial dan upaya diversifikasi rantai pasokan.
Debat Harga Minimum: Sebuah Titik Kontroversi
Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah pertanyaan tentang penetapan harga minimum untuk mineral krusial.
Banyak negara mendorong gagasan ini, dengan argumen bahwa harga dasar akan mengurangi risiko bagi investor, memastikan pasokan berkelanjutan dari berbagai sumber, dan mencegah pemain besar memanfaatkan harga murah untuk menyingkirkan pesaing kecil.
Namun, Amerika Serikat dilaporkan menarik diri dari gagasan penetapan harga minimum ini. Penarikan diri ini menimbulkan dampak, di mana saham-saham pertambangan Australia, salah satu negara dengan cadangan tanah jarang yang besar dan gencar mendorong harga dasar, mengalami penurunan.
Australia sendiri berinvestasi besar-besaran dalam mengembangkan kapasitas pemrosesan sendiri, memposisikan dirinya sebagai alternatif bagi China. Keputusan AS untuk tidak mendukung harga minimum ini menjadi salah satu titik kontroversi yang menyoroti perbedaan pendekatan di antara negara-negara sekutu.
Membangun Rantai Pasok Mandiri: Upaya Global dan Hambatan
Pertemuan menteri ini juga menjadi kesempatan bagi AS untuk menyelaraskan negara-negara lain dengan kebijakan mineral krusialnya sendiri.
Analis seperti Raphael Deberdt dari Copenhagen Business School mengemukakan bahwa AS kemungkinan akan mendorong negara-negara mitra untuk menandatangani kesepakatan mineral, yang memberikan perusahaan AS akses preferensial atau setidaknya akses ke deposit mineral.
Washington juga ingin berinvestasi di negara-negara tersebut untuk memperluas produksi mineral spesifik, terutama elemen tanah jarang, kobalt, nikel, dan grafit.
Deberdt juga menjelaskan bahwa AS kemungkinan akan berupaya untuk menata ulang rantai pasokan mineral krusial, mengorientasikan pemrosesan ke wilayahnya sendiri dan wilayah negara-negara sekutu.
Namun, hal ini masih bersifat prospektif karena AS memiliki sedikit kemampuan pemrosesan dan masih jauh dari dominasi China.
Karenanya, konferensi di Washington ini lebih cenderung bertujuan untuk membuat kebijakan AS tentang mineral krusial terlihat, dibandingkan mencapai “kemajuan nyata dalam onshoring, reshoring, atau friend-shoring mineral krusial,” menurut Deberdt.
Berbagai negara lain, selain AS dengan Project Vault-nya, juga mengambil langkah strategis untuk menimbun mineral krusial sebagai perlindungan dari gangguan rantai pasokan.
Jepang memperkenalkan strategi sumber daya internasional pada Maret 2020 yang memperkuat sistem penimbunan mineral tanah jarangnya.
Korea Selatan juga memiliki cadangan mineral krusial yang sudah lama dikelola oleh Korea Mine Rehabilitation and Mineral Resources Corporation yang dikelola negara.
Pada Desember, Komisi Eropa mengadopsi Rencana Aksi RESourceEU untuk mengamankan pasokan mineral krusial UE, termasuk melalui penimbunan. Australia juga mengumumkan detail baru dari Cadangan Strategis Mineral Krusial senilai $1,2 miliar.
Meskipun cadangan tanah jarang Australia besar, ukurannya hanya sepersepuluh dari cadangan China. Inilah mengapa para ahli memperkirakan AS juga akan berusaha mendekati negara-negara lain untuk mendapatkan pasokan.
Greenland, yang kaya akan mineral krusial termasuk logam tanah jarang, juga menjadi target, meskipun penambangan di sana terbatas karena kuatnya penolakan dari penduduk asli Inuit.
Secara keseluruhan, pertemuan di Washington D.C. ini adalah manifestasi nyata dari perlombaan geopolitik global yang semakin intensif untuk mengamankan sumber daya yang tak tergantikan.
Dengan taruhan yang tinggi, masa depan industri teknologi, pertahanan, dan ekonomi global akan sangat ditentukan oleh bagaimana negara-negara menavigasi kompleksitas pasokan mineral krusial ini dalam menghadapi dominasi yang tak tertandingi.



![Para penambang bekerja keras di sebuah tambang koltan di Rubaya, Republik Demokratik Konggo, tempat yang kaya akan mineral strategis namun juga menjadi saksi bisu tantangan eksploitasi dan konflik. Para penambang bekerja keras di sebuah tambang koltan di Rubaya, Republik Demokratik Konggo, tempat yang kaya akan mineral strategis namun juga menjadi saksi bisu tantangan eksploitasi dan konflik. Source: Miners work at the D4 Gakombe coltan mining quarry in Rubaya, DRC [File: Moses Sawasawa/AP]](https://infoseputarsumsel.com/wp-content/uploads/2026/02/Para-penambang-bekerja-keras-di-sebuah-tambang-koltan-di-Rubaya-Republik-Demokratik-Konggo-tempat-yang-kaya-akan-mineral-strategis-namun-juga-menjadi-saksi-bisu-tantangan-eksploitasi-dan-konflik-200x112.jpg)


