Iran Izinkan 6 Negara Bersahabat Lewat Selat Hormuz, Indonesia Tidak Termasuk

Jalur Selat Hormuz Di bawah Kendali Iran
Jalur Selat Hormuz Di bawah Kendali Iran

Infoseputarsumsel.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan daftar enam negara bersahabat yang kapalnya dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Sayangnya, Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, merupakan titik strategis bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati jalur ini. Namun, sejak serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, keamanan selat ini menjadi sorotan internasional.

Bacaan Lainnya

Araghchi menekankan bahwa klaim media Barat soal penutupan total selat adalah tidak benar. “Banyak pemilik kapal atau negara-negara pemilik kapal telah menghubungi kami untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz. Untuk negara yang kami anggap bersahabat, angkatan bersenjata kami menyediakan jalur aman,” kata Araghchi, dikutip Reuters pada 26 Maret 2026.

Enam Negara Bersahabat Versi Iran

Araghchi merinci bahwa negara yang masuk daftar aman adalah China, Rusia, Pakistan, Irak, India, dan Bangladesh. Dua kapal mereka telah melewati selat beberapa malam lalu, menunjukkan koordinasi yang erat antara pemerintah Iran dengan negara-negara tersebut.

“Negara-negara yang dianggap musuh, termasuk Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Teluk, tidak akan diizinkan untuk transit,” tegas Araghchi. “Selat ini tetap terbuka bagi negara lain, tetapi tidak untuk kapal musuh.”

Kapal Kontainer Ditahan, Dampak Global

Awal pekan ini, Iran menghentikan kapal kontainer SELEN tujuan Pakistan karena tidak memiliki izin transit. Hal ini menegaskan kontrol ketat Iran atas jalur air penting ini.

Penutupan atau pembatasan Selat Hormuz telah mempengaruhi pasar global. Dengan jalur yang biasanya dilalui sekitar 120 kapal per hari, hanya 155 penyeberangan tercatat dari 1 hingga 25 Maret—penurunan 95 persen. Akibatnya, terjadi gangguan rantai pasok, kenaikan harga energi, dan kesulitan distribusi barang di berbagai sektor, termasuk maskapai penerbangan dan supermarket.

Zona Perang yang Memengaruhi Pasokan Energi Dunia

Konflik yang dipicu serangan AS dan Israel telah mendorong Iran melakukan serangan balasan di wilayah Timur Tengah. Hal ini membuat Selat Hormuz menjadi zona perang strategis, di mana pengiriman energi dunia terancam.

Dengan hanya negara-negara bersahabat yang bisa melintas, pasar minyak global menghadapi tekanan serius. Para analis memperingatkan bahwa ketidakpastian di Selat Hormuz akan terus memengaruhi harga minyak dan distribusi energi internasional.

Pos terkait