Banyak fresh graduate masuk dunia kerja dengan bekal yang sebenarnya tidak sedikit. Selama kuliah, mereka sudah mencoba berbagai hal—mulai dari desain, pemasaran digital, pengolahan data, hingga kemampuan komunikasi.
Ketika melihat lowongan kerja, sebagian besar kualifikasi terasa relevan. Lamaran dikirim, bahkan beberapa kali berhasil masuk tahap interview. Jawaban pun tidak buruk, masih bisa mengikuti alur pertanyaan.
Namun setelah itu, sering kali hasilnya menggantung. Tidak ada kabar lanjutan, atau bahkan berakhir di-ghosting tanpa penjelasan.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: jika sudah memiliki banyak kemampuan, mengapa tetap tidak dipilih?
Fenomena ini belakangan dikenal sebagai “kutukan platipus”.
Kenapa disebut “platipus”?
Platipus adalah salah satu hewan paling unik di dunia. Ia mamalia, tetapi bertelur. Memiliki paruh seperti bebek, kaki berselaput, dan bahkan pejantan memiliki racun.
Namun di balik keunikannya, ada satu hal yang menarik: semua kemampuannya berada di level “cukup”.
Ia bisa berenang, tetapi tidak secepat hewan air lain. Racunnya ada, tetapi tidak mematikan. Secara fungsi, ia memiliki banyak kemampuan, tetapi tidak ada yang benar-benar dominan.
Dari sinilah muncul analogi “kutukan platipus”—kondisi ketika seseorang bisa banyak hal, tetapi tidak memiliki keahlian yang cukup kuat untuk menonjol.
Banyak skill, tapi tetap kalah di seleksi
Dalam dunia kerja, terutama saat proses rekrutmen, yang dicari bukan sekadar kandidat yang “bisa”.
Perusahaan mencari kejelasan.
Kandidat yang jelas sebagai desainer.
Jelas sebagai data analyst.
Atau jelas sebagai digital marketer.
Sementara individu dengan banyak kemampuan dasar sering berada di posisi yang sulit. Mereka bisa masuk ke banyak kriteria, tetapi tidak cukup kuat untuk menjadi pilihan utama di salah satu.
Akibatnya, yang sering terjadi adalah: lolos tahap awal, tetapi tidak terpilih di akhir.
cukup kompeten, tetapi tidak menonjol.
atau berhenti di tahap interview tanpa kejelasan.
Dipandang berwawasan luas, tetapi sebenarnya belum cukup dalam.
Dipandang berwawasan luas, padahal yang kita ketahui hanya buih-buih kecil di permukaan laut—sekadar mengambang, tanpa pernah benar-benar merasa tepat untuk menyelam lebih dalam.
Kenapa banyak fresh graduate ada di posisi ini?
Sejak awal, banyak orang didorong untuk menjadi serba bisa. Aktif di berbagai kegiatan, mencoba banyak hal, dan tidak terpaku pada satu bidang tertentu.
Pendekatan ini memang membentuk fleksibilitas. Namun tanpa pendalaman, hasilnya adalah kemampuan yang luas tetapi dangkal.
Ketika masuk dunia kerja yang menuntut spesialisasi, perbedaan ini menjadi sangat terasa.
Yang “cukup bisa” akan kalah dengan yang “benar-benar ahli”.
Jadi harus mulai dari mana?
Keluar dari fase ini tidak selalu berarti harus belajar hal baru, tetapi justru berhenti menambah terlalu banyak hal.
Langkah awal yang lebih penting adalah memilih.
Memilih satu bidang yang paling masuk akal untuk diperdalam.
Menjadikan skill lain sebagai pendukung, bukan pusat.
Dengan begitu, seseorang tidak lagi terlihat “bisa semuanya”, tetapi mulai memiliki identitas yang jelas.
Dan di dunia kerja, kejelasan itu yang membuat seseorang lebih mudah dipilih.
Bukan kurang, tapi belum terarah
Mengalami penolakan atau tidak mendapat kabar setelah interview bukan berarti tidak memiliki kemampuan.
Sering kali, itu hanya menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki belum cukup terfokus.
Menjadi serba bisa bukanlah kesalahan. Namun jika tidak diikuti dengan pendalaman, hal tersebut justru bisa menjadi penghambat.
Pada akhirnya, yang membuat seseorang dilihat bukan seberapa banyak yang ia bisa, tetapi seberapa jelas ia menunjukkan keahliannya.
Dan mungkin, yang dibutuhkan saat ini bukan menambah kemampuan baru melainkan keberanian untuk memilih satu arah, lalu benar-benar menyelam lebih dalam di sana.



