LUBUKLINGGAU, Infoseputarsumsel.com – Kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) wilayah Silampari meluapkan kekecewaan mereka terhadap proses penentuan kepemimpinan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di sejumlah daerah. Kemarahan itu muncul setelah tiga alumni PMII yang digadang-gadang menjadi Ketua DPC PKB di wilayah masing-masing justru gagal mendapatkan posisi tersebut.
Tiga nama yang menjadi sorotan adalah Zulpikar, S.Pd.I di Kabupaten Musi Rawas, Yulius, S.E di Kota Lubuklinggau, dan Asri di Kabupaten Musi Rawas Utara. Ketiganya merupakan alumni PMII yang dinilai memiliki rekam jejak organisasi, pengalaman kaderisasi, serta jaringan politik yang cukup kuat di daerah masing-masing.
Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari kader PMII Silampari. Mereka menilai proses yang terjadi tidak mencerminkan semangat kaderisasi yang selama ini menjadi identitas perjuangan PMII maupun PKB sebagai partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU).
“Kami sangat kecewa. Tiga alumni PMII yang selama ini berjuang, membangun komunikasi politik, menjaga basis massa, bahkan ikut membesarkan partai di daerah, justru tidak mendapatkan kesempatan memimpin. Ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan kader,” ujar Muhamad Arka ketua PC PMII Lubuklinggau
Sorotan paling tajam mengarah pada proses pemilihan Ketua DPC PKB Musi Rawas. Nama Zulpikar yang saat ini menjabat sebagai Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PC PMII Lubuklinggau disebut telah mengikuti seluruh tahapan proses pencalonan. Bahkan, beredar informasi bahwa dirinya telah mengeluarkan biaya besar dalam proses tersebut.
Kader PMII Silampari menilai apa yang terjadi terhadap Zulpikar menjadi simbol kekecewaan kader terhadap mekanisme politik yang dianggap tidak berpihak kepada kader ideologis yang telah lama berproses di organisasi.
Tidak hanya di Musi Rawas, kekecewaan serupa juga dirasakan oleh pendukung Yulius, S.E yang mengikuti proses pencalonan Ketua DPC PKB Kota Lubuklinggau. Sebagai alumni PMII, Yulius dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk memimpin partai di tingkat daerah.
Hal yang sama juga terjadi di Musi Rawas Utara. Asri yang merupakan alumni PMII dan ikut dalam bursa calon Ketua DPC PKB Muratara juga tidak mendapatkan kesempatan memimpin partai. Kondisi ini membuat kader PMII Silampari mempertanyakan komitmen PKB dalam memberikan ruang kepada kader-kader yang lahir dari proses kaderisasi organisasi.
Menurut mereka, persoalan ini bukan sekadar soal jabatan atau kemenangan dalam kontestasi internal partai. Lebih dari itu, yang menjadi perhatian adalah penghargaan terhadap proses kaderisasi panjang yang telah dijalani para alumni PMII selama bertahun-tahun.
Kader PMII Silampari menilai apabila kader-kader yang telah mengabdi dan berjuang di akar rumput terus diabaikan, maka akan muncul krisis kepercayaan di kalangan nahdliyin muda terhadap partai yang selama ini dianggap sebagai rumah politik mereka.
Mereka berharap DPP maupun DPW PKB melakukan evaluasi terhadap proses penentuan kepemimpinan di daerah agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah kader dan masyarakat. Kekecewaan atas nasib tiga alumni PMII tersebut kini menjadi pembicaraan luas di kalangan kader PMII Silampari dan dinilai sebagai alarm serius bagi masa depan hubungan antara kader PMII dan PKB di tingkat daerah.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari DPW PKB Sumatera Selatan terkait berbagai kritik dan kekecewaan yang disampaikan kader PMII Silampari tersebut.







